Track On Your LIfe
Talk About Music, Talk About Track, Talk About Events In Life

Out Of Reach

Knew the signs
Wasn’t right
I was stupid for a while
Swept away by you
And now I feel like a fool
So confused,
My heart’s bruised
Was I ever loved by you?

Out of reach, so far
I never had your heart
Out of reach,
Couldn’t see
We were never
Meant to be

Catch myself
From despair
I could drown
If I stay here
Keeping busy everyday
I know I will be OK

But I was
So confused,
My heart’s bruised
Was I ever loved by you?

Out of reach, so far
I never had your heart
Out of reach,
Couldn’t see
We were never
Meant to be

So much hurt,
So much pain
Takes a while
To regain
What is lost inside
And I hope that in time,
You’ll be out of my mind
And I’ll be over you

But now I’m
So confused,
My heart’s bruised
Was I ever loved by you?

Out of reach,
So far
I never had your heart
Out of reach,
Couldn’t see
We were never
Meant to be

Out of reach,
So far
You never gave your heart
In my reach, I can see
There’s a life out there
For me

Song Title: Out Of Reach

By: Gabriele

Aku terus menerus memutarkan lagu tersebut dalam CD playerku. Entah sudah keberapa kalinya lagu tersebut diputar dan mengisi kekosongan hati dan pikiran ini. Aku memejamkan mataku, menghayati lirik demi lirik yang dinyanyikan Gabriele, lalu dengan gerakan rutin menekan tombol rewind setiap kali lagu tersebut usai. Pada saat ini aku merasa lagu itu tercipta untukku, aku merasa ketika Gabriele menyanyikan setiap lirik yang ada, dia menyanyikan sebuah lagu untukku.

Lagu itu, mencerminkan hidupku pada saat ini.

Mereka bilang tidak ada yang tidak mungkin dalam cinta, tapi kata-kata itu malah terdengar seperti sampah di telingaku. Tidak ada yang mungkin katanya?? Bohong besar! Karena aku dan dia tidak akan pernah mungkin bisa bersatu.

Aku hanyalah orang biasa. Terlalu biasa malahan. Kecantikanku terlalu biasa hingga tak ada seorang pun yang akan menoleh padaku lebih dari satu kali. Kepribadianku terlalu biasa hingga tidak ada seorang pun yang berminat untuk mengenalku lebih jauh. Kecerdasanku terlalu biasa hingga tak ada seorang pun yang betah mengobrol lama-lama denganku. kekayaannya terlalu biasa hingga tak ada seorang pun yang benar-benar memandangku. Semua yang kupunya masuk ke dalam kategori terlalu biasa. Terlalu biasa dalam artian yang sebenarnya. Bahkan kisah hidupku pun terlalu biasa hingga jika dijadikan cerita hanya akan masuk ke dalam tempat sampah para penerbit.

Sementara dia…

Membicarakan tentangnya takkan pernah ada habisnya. Dia adalah sebuah perbandingan terbalik akan diriku, dia adalah sosok yang terlalu luar biasa. Wajhahnya terlalu luar biasa hingga setiap orang tak henti-hentinya memandanginya dan mengagumi ketampanannya. Kepribadiannya terlalu biasa hingga setiap orang tertarik untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Kecerdasannya terlalu luar biasa hingga membuat setiap orang selalu ingin mengobrol dengannya. Kekayaannya terlalu luar biasa hingga setiap orang memandangnya dengan tatapan penuh hormat. Semuanya terlalu luar biasa. Luar biasa dalam artiannya yang sebenarnya. Bahkan penulis mana pun akan berlomba-lomba untuk mengabadikan cerita hidupnya yang luar biasa.

Aku memang jatuh cinta, tapi tidak lantas aku menjadi bodoh. Tentu saja dia yang luar biasa tidak akan mungkin bisa disandingkan satu paket denganku. Seperti Marlboro yang tidak mungkin berada dalam satu bungkus yang sama dengan Djaroem Coklat. Seperti kaktus yang tidak mungkin tumbuh di tempat yang sama dengan teratai. Seperti semua seperti yang tidak akan mungkin menjadi satu paket dalam bentuk, untuk alasan, dan sampai kapan pun, dengan cara bagaimana pun.

Aku hanya bisa menyesal. Menyesali kehidupan cintaku yang telah salah memilih jalan. Hati terdalamku menjerit, tapi untungnya aku cukup tahu diri untuk akhirnya memilih untuk diam, menahan emosiku, membiarkan diriku terluka, dan hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.

Hanya dari kejauhan…

Karena dia memang terlalu jauh untukku

Karena semakin ku berusaha untuk dekat dengannya, semakin dia menjauhiku

Karena dia memang kelewat jauh untukku meski hanya dalam mimpi

Karena dia memang… out of reach

Bandung, February 8 2007

9:39 AM

4 Responses to “Out Of Reach”

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Meninggalkan komen PERTAMA di postingan PERTAMA
    Inilah konsekuensi dalam memilih. Gak usah disesali n tetap semangat!

  2. jangan terlalu merendah gitu
    buktinya, gw ngelirik lw berkali kali ha ha ha

    dengan tolak ukur apa perbandingannya???
    dimata tuhan, semua mahluk sama
    dan semua memiki kekurangan dan kelebihan…
    anggap ja dia bukan yang terbaik, mungkin ada cinta yang lebih baik jauh disana, hanya belum dipertemukan…

  3. bukan muhrim jd jangan ngelirik berkali2 hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.